Dermatitis Eksfoliatif (Exfoliative dermatitis) adalah penyakit kulit inflamasi yang ditandai dengan kemerahan dan bersisik, mempengaruhi hampir seluruh permukaan tubuh. Istilah ini digunakan bila 90 % atau lebih kulit terlibat.
Penyebab paling umum eritroderma adalah eksaserbasi penyakit kulit yang mendasarinya, seperti psoriasis, dermatitis kontak, dermatitis seboroik, lichen planus, pityriasis rubra pilaris, atau reaksi obat, termasuk penggunaan steroid topikal. Manifestasi primer lebih jarang dan biasanya terkait dengan limfoma sel‑T kulit. Karena pentingnya membedakan kondisi ini dari limfoma sel‑T kulit, biopsi biasanya dilakukan.
Erythroderma is an inflammatory skin disease with redness and scaling that affects nearly the entire cutaneous surface. This term applies when 90% or more of the skin is affected.
☆ Pada hasil Stiftung Warentest tahun 2022 dari Jerman, kepuasan konsumen terhadap ModelDerm hanya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan konsultasi telemedis berbayar.
Red (burning) Skin Syndrome ― Eritema dan kerak di sekujur tubuh adalah gejala utama Dermatitis Eksfoliatif (Exfoliative dermatitis).
Erythroderma adalah kondisi kulit yang jarang namun serius. Meskipun penyebab pastinya sering tidak diketahui, kondisi ini dapat dipicu oleh reaksi obat atau oleh penyakit kanker yang mendasarinya. Salah satu kanker yang sering terkait dengan dermatitis eksfoliatif adalah limfoma sel T kulit, yang mungkin tidak menunjukkan gejala selama berbulan‑bulan atau bahkan bertahun‑tahun setelah munculnya kelainan kulit. Biasanya, rawat inap diperlukan untuk penilaian dan pengobatan awal. Pasien yang mengalami penyakit akibat obat umumnya memiliki prospek jangka panjang yang baik, meskipun kasus tanpa penyebab yang jelas cenderung kambuh dan sulit disembuhkan. Prognosis pada kasus yang terkait dengan kanker biasanya bergantung pada perkembangan kanker tersebut. Erythroderma is a rare but serious skin condition. While the exact cause is often unknown, it can be triggered by a drug reaction or an underlying cancer. One common cancer linked to exfoliative dermatitis is cutaneous T-cell lymphoma, which might not show symptoms for months or even years after the skin condition starts. Usually, hospitalization is needed for initial assessment and treatment. Patients with drug-induced disease generally have a good long-term outlook, though cases without a clear cause tend to have a recurring and remitting course. The prognosis for cases linked to cancer typically depends on how the cancer progresses.
Biasanya ditandai dengan kemerahan yang meluas dan pengelupasan yang menutupi lebih dari 90 % tubuh. Kondisi ini merupakan tanda nyata dari berbagai masalah kesehatan mendasar, seperti psoriasis, eksim, atau respons terhadap obat‑obatan tertentu. It characteristically demonstrates diffuse erythema and scaling of greater than 90% of the body surface area. It is a reaction pattern and cutaneous manifestation of a myriad of underlying ailments, including psoriasis and eczema, or a reaction to the consumption of certain drugs.
Penyebab paling umum eritroderma adalah eksaserbasi penyakit kulit yang mendasarinya, seperti psoriasis, dermatitis kontak, dermatitis seboroik, lichen planus, pityriasis rubra pilaris, atau reaksi obat, termasuk penggunaan steroid topikal. Manifestasi primer lebih jarang dan biasanya terkait dengan limfoma sel‑T kulit. Karena pentingnya membedakan kondisi ini dari limfoma sel‑T kulit, biopsi biasanya dilakukan.